UPDATECEPAT.COM – Memasuki sekitar 1,6 tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, berbagai indikator ekonomi mulai ramai diperbincangkan di media sosial. Sejumlah pihak menilai kondisi ekonomi nasional sedang menghadapi tekanan yang cukup berat.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah nilai tukar rupiah yang disebut melemah hingga berada di kisaran Rp17.491 per dolar AS. Pelemahan rupiah ini dinilai dapat berdampak pada kenaikan harga barang impor, tekanan terhadap industri, hingga potensi meningkatnya biaya hidup masyarakat.
Selain itu, pasar saham Indonesia juga ikut menjadi sorotan. IHSG disebut mengalami penurunan hampir 20 persen dari posisi sebelumnya. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi dan iklim investasi di dalam negeri.
Di sisi lain, utang negara juga menjadi bahan perdebatan publik. Nilainya disebut telah mencapai Rp9.920 triliun. Jumlah tersebut diperparah dengan adanya kewajiban jatuh tempo utang sekitar Rp833,96 triliun yang harus diselesaikan pemerintah. Situasi ini memunculkan pertanyaan soal kemampuan fiskal negara dalam menjaga keseimbangan keuangan nasional.
Tak berhenti di sana, kondisi APBN juga disorot setelah defisit disebut mencapai Rp240 triliun. Defisit terjadi ketika pengeluaran negara lebih besar dibanding pemasukan. Pemerintah biasanya harus mencari pembiayaan tambahan untuk menutup kekurangan tersebut.
Masalah ketenagakerjaan juga ikut menjadi perhatian. Angka pengangguran disebut berada di kisaran 7,24 juta orang. Banyak masyarakat berharap pemerintah mampu menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan dan menjaga daya beli rakyat di tengah tekanan ekonomi global.
Meski demikian, pemerintah sebelumnya telah menyatakan bahwa kondisi ekonomi nasional masih terkendali dan berbagai program strategis tetap berjalan. Pemerintah juga menilai tekanan ekonomi tidak hanya dialami Indonesia, tetapi juga dipengaruhi situasi global seperti konflik geopolitik, suku bunga tinggi Amerika Serikat, hingga perlambatan ekonomi dunia.
Kini publik menunggu langkah nyata pemerintah dalam memperkuat nilai rupiah, menjaga stabilitas pasar, menekan pengangguran, serta memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas. (UER)



