UPDATECEPAT.COM – Pasar negara berkembang (emerging markets) kembali menjadi sorotan investor global karena performa yang relatif kuat dibandingkan dengan negara maju. Para analis dan lembaga investasi menilai bahwa meskipun terdapat berbagai risiko makro dan geopolitik, aset di pasar berkembang menawarkan peluang pertumbuhan dan imbal hasil yang menarik bagi portofolio investor internasional.“Emerging markets memiliki kombinasi valuasi yang menarik, peluang pertumbuhan, dan diversifikasi dari pasar negara maju — sesuatu yang tidak boleh diabaikan,” ujar Stefan Magnusson, Kepala Investasi Emerging Markets di Orbis Investments dalam ulasan analisis global akhir 2025. Para investor kini mempertimbangkan ulang risiko tidak berpartisipasi di pasar ini sebagai salah satu risiko terbesar pada 2026.
Menurut laporan pasar terbaru, gelombang arus modal global kembali mengalir ke emerging markets, terutama ketika mata uang dolar AS melemah ke level terendah dalam empat tahun. Hal ini turut mengerek kinerja bursa saham di negara seperti Turki, Brasil, Afrika Selatan, Chile, Meksiko, Taiwan, dan Korea Selatan — indeksnya mencatat lonjakan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Dana equity pasar negara berkembang mencatat arus masuk mingguan terbesar sejak 2022, mencapai milyaran dolar AS, didorong oleh valuasi yang lebih murah dibandingkan pasar maju. Investor fixed-income juga menunjukkan minat kuat pada obligasi lokal di negara berkembang sebagai strategi diversifikasi terhadap risiko mata uang tunggal.
Adapun alasan Investor Menyukai Emerging Markets, yaitu Valuasi Lebih Menarik: Banyak indeks saham dan obligasi negara berkembang diperdagangkan pada valuasi lebih rendah daripada rekan di negara maju, membuka peluang imbal hasil lebih tinggi dalam jangka menengah hingga panjang. Kemudian Pelemahan Dolar AS: Turunnya kekuatan dolar meningkatkan daya tarik aset berdenominasi mata uang lokal di negara berkembang. Ditambahkan adanya Diversifikasi Portofolio dimana dengan tren rotasi alokasi global dari saham dan obligasi negara maju, investor institusional melihat emerging markets sebagai sumber return dan diversifikasi tambahan.
Ekonomi Mengingatkak Risiko yang Masih Ada. Meski tren positif, risiko makro tetap menghantui, seperti ketidakpastian kebijakan fiskal di beberapa negara, ketegangan geopolitik, dan potensi fluktuasi harga komoditas global. Selain itu, dinamika suku bunga acuan negara maju seperti AS masih memengaruhi arus modal ke negara berkembang. Prospek pasar negara berkembang pada 2026 tetap optimis. Dengan valuasi yang kompetitif, arus modal yang meningkat, dan diversifikasi strategis yang menarik, emerging markets menjadi kelas aset yang diperhitungkan oleh manajer investasi global walaupun tetap diwarnai risiko makro. Untuk investor jangka panjang, peluang pertumbuhan di negara-negara ini masih cukup kuat — tetapi perlu kehati-hatian dan strategi diversifikasi yang matang. (FKA)



