Ekonomi

Investor Global Cemas, Keputusan The Fed Berpotensi Ubah Arah Pasar

248
×

Investor Global Cemas, Keputusan The Fed Berpotensi Ubah Arah Pasar

Share this article

UPDATECEPAT.COM – WASHINGTON D.C./JAKARTA, 28 JANUARI 2026 – Rapat pertama Federal Open Market Committee (FOMC) 2026 dijadwalkan berlangsung 28 Januari 2026, dan sementara banyak analis memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan tanpa perubahan, ketidakpastian arah kebijakan moneter ke depan tetap menjadi sorotan utama pasar keuangan global.

Menurut laporan CBS News, pertemuan bank sentral Amerika Serikat ini menjadi momen penting, bukan sekadar menunggu keputusan suku bunga, tetapi untuk melihat nada kebijakan The Fed di bawah pimpinan Ketua Jerome Powell. Tekanan politik dan dinamika ekonomi domestik AS ikut memperumit tugas bank sentral menjelang pengumuman ini.

Meski pasar futures menunjukkan ekspektasi bahwa The Fed akan menahan tingkat suku bunga pada batas saat ini, analis juga mencatat adanya perbedaan pandangan internal di antara pembuat kebijakan — hal yang berpotensi menciptakan volatilitas bila pandangan itu tercermin dalam dot plot dan pernyataan resmi setelah rapat.

Sentimen pasar global juga tercermin di Asia dan pasar negara berkembang. Laporan dari ANTARA News menyebut rupiah menguat terhadap dolar AS menjelang rapat FOMC, karena investor memperkirakan kebijakan moneter The Fed akan tetap longgar meski suku bunga stabil. Penguatan mata uang ini mencerminkan ekspektasi pelemahan dolar dalam jangka pendek menjelang keputusan kebijakan tersebut.

Namun, ketidakpastian tetap tinggi. Reuters dalam laporannya menggarisbawahi bahwa ketegangan atas independensi The Fed dan tantangan dari tekanan politik–termasuk kritik dari pembuat kebijakan AS sendiri–telah memperumit persepsi pasar terhadap kebijakan suku bunga AS di masa depan. Ketidakjelasan ini ikut memberi tekanan pada keputusan investor global dalam penentuan alokasi aset.

Tak hanya itu, pergerakan pasar saham menunjukkan dinamika yang kontras. Data terbaru dari AP News menunjukkan Wall Street mencatat rekor baru indeks S&P 500 dan Nasdaq, sementara dolar AS melemah tajam terhadap mata uang utama lainnya — sebuah sinyal bahwa sentimen pasar masih sangat dipengaruhi oleh prospek kebijakan The Fed di tengah ekonomi AS yang terus beradaptasi dengan tekanan inflasi dan kondisi geopolitik global.

Inflasi Masih Jadi Faktor Utama

Salah satu faktor utama yang membuat pasar tetap tegang adalah fakta bahwa inflasi di AS masih berada di atas target jangka panjang The Fed, meskipun telah menurun dari puncak paska-pandemi. Menurut data indeks harga yang dipantau oleh investor — termasuk Personal Consumption Expenditures (PCE), tolok ukur inflasi yang diutamakan The Fed — tekanan harga tetap bertahan di level yang mengundang kehati-hatian bank sentral.

Dengan inflasi yang belum sepenuhnya terkendali dan ekspektasi pasar yang beragam tentang apakah The Fed akan memangkas bunga kemudian tahun ini, rapat FOMC ini dipandang bukan sekadar keputusan teknis, tetapi juga pengukur sentimen risiko investor global.

Apa Artinya Bagi Pasar Dunia?

Keputusan untuk mempertahankan suku bunga atau memberikan isyarat kebijakan masa depan akan berdampak luas. Pasar obligasi, nilai tukar mata uang, komoditas seperti emas, dan pasar saham menjadi instrumen yang paling cepat merespons sinyal dari The Fed.

Investor di Asia, Eropa, maupun Amerika Latin memantau dengan cermat apakah bank sentral AS akan menurunkan biaya pinjaman lebih lanjut apabila data ekonomi AS melambat, atau tetap menjaga suku bunga tinggi lebih lama guna menekan inflasi.

Rapat FOMC di akhir Januari ini dipandang sebagai titik awal kebijakan moneter global untuk 2026 — penentu keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi — sekaligus barometer risiko utama bagi pasar keuangan di seluruh dunia. (HLS)