PendidikanUmum

Gubernur Jatim Dorong Penguatan Ekosistem Reyog Usai Diakui UNESCO

366
×

Gubernur Jatim Dorong Penguatan Ekosistem Reyog Usai Diakui UNESCO

Share this article
Istimewa

SURABAYA, 14 April 2026 – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya penguatan ekosistem kesenian Reyog sebagai warisan budaya dunia yang berkelanjutan, pasca pengakuan UNESCO terhadap Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb).

Hal itu disampaikan saat Khofifah menerima kunjungan seniman Tim Reyog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, dalam rangka persiapan menghadapi Festival Reyog Nasional Ponorogo 2026 yang dijadwalkan berlangsung Juni mendatang.

Menurut Khofifah, Reyog tidak sekadar pertunjukan seni, melainkan juga representasi nilai dan filosofi yang mencerminkan identitas bangsa.

“Reyog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya ada filosofi kuat tentang keberanian, kebenaran, serta harmoni dalam keberagaman,” ujarnya.

Ia menambahkan, nilai-nilai filosofis tersebut menjadi kekuatan utama Reyog dalam membentuk karakter masyarakat sekaligus menjadi pijakan dalam pembangunan peradaban bangsa.

Lebih lanjut, Khofifah menilai pengakuan internasional terhadap Reyog harus diikuti langkah konkret, mulai dari pelestarian hingga regenerasi pelaku seni. Ia juga menyoroti pentingnya aspek kesejahteraan satwa (animal welfare) dalam pertunjukan, termasuk memastikan tidak adanya penggunaan material dari satwa dilindungi.

“Pengakuan ini merupakan proses panjang. Ke depan, kita harus memastikan keberlanjutan Reyog dengan tetap memperhatikan aspek pelestarian, termasuk perlindungan satwa,” katanya.

Seiring meningkatnya pengakuan global, Khofifah menyebut ekosistem Reyog terus berkembang, apalagi dengan posisi Ponorogo yang semakin dikenal di tingkat internasional. Namun, ia mengingatkan bahwa keberlanjutan hanya dapat dicapai melalui konsistensi penyelenggaraan event dan regenerasi seniman.

“Harus sering ada pentas dan event agar proses latihan dan regenerasi berjalan optimal. Dari situ akan tumbuh rasa bangga dan dedikasi,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Timur Evy Afianasari menjelaskan pihaknya terus mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem Reyog. Upaya tersebut melibatkan institusi pendidikan seperti Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta, SMK Negeri 12 Surabaya, dan Universitas Negeri Surabaya, serta berbagai sanggar seni.

Selain itu, kerja sama juga dijalin dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam untuk mendukung pelestarian satwa, khususnya burung merak Jawa, sebagai bagian dari solusi keberlanjutan bahan pertunjukan Reyog.

Perwakilan Tim Reyog Kyai Lodra, Joko Winarko, menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur terhadap pelestarian seni tradisi. Ia menyebut keikutsertaan tim dalam festival bukan sekadar kompetisi, melainkan bentuk komitmen generasi muda dalam menjaga warisan budaya.

Sebagai bentuk dukungan konkret, Gubernur Khofifah memberikan bantuan dana pembinaan sebesar Rp25 juta untuk mendukung persiapan tim menuju Festival Reyog Nasional Ponorogo 2026.

Melalui langkah tersebut, Pemprov Jawa Timur menegaskan komitmennya menjaga Reyog sebagai warisan budaya yang tidak hanya lestari, tetapi juga terus berkembang dan dikenal di tingkat global.