UPDATECEPAT.COM – JAKARTA, 31 Maret 2026 — Harga minyak dunia bergerak fluktuatif namun cenderung tinggi pada perdagangan awal pekan ini, dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.
Minyak mentah jenis Brent dilaporkan berada di kisaran USD 105–110 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) bertengger di level USD 95–100 per barel. Pergerakan ini mencerminkan volatilitas pasar yang masih tinggi di tengah ketidakpastian global.
Sejumlah analis menilai, konflik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga. Jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz kembali menjadi sorotan, mengingat perannya sebagai salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.
“Pasar saat ini sangat sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik. Sedikit saja gangguan, harga bisa langsung melonjak,” ujar seorang analis energi global.
Di sisi lain, pasar juga sempat merespons positif kabar meredanya ketegangan, yang membuat harga terkoreksi tipis. Namun, sentimen tersebut tidak bertahan lama seiring masih tingginya risiko eskalasi konflik.
Kondisi ini membuat harga minyak berada dalam tekanan tarik-menarik antara kekhawatiran pasokan dan harapan stabilisasi geopolitik.
Dampak ke Ekonomi dan Indonesia
Kenaikan harga minyak dunia berpotensi memberikan dampak langsung terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Tekanan terhadap harga energi dapat memicu kenaikan biaya produksi dan distribusi, yang pada akhirnya mendorong inflasi.
Bagi Indonesia, situasi ini juga menjadi tantangan dalam menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM), terutama di tengah upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat.
Selain itu, fluktuasi harga minyak juga dapat memengaruhi nilai tukar rupiah serta kinerja sektor energi dan transportasi.
Waspada Risiko Pasokan
Pengamat menilai, selama ketegangan geopolitik belum mereda, harga minyak berpotensi tetap tinggi. Risiko gangguan pasokan, baik dari konflik maupun kebijakan negara produsen, menjadi faktor utama yang akan menentukan arah harga ke depan.
Pemerintah di berbagai negara pun mulai meningkatkan kewaspadaan, termasuk dengan memperkuat cadangan energi dan mengawasi distribusi bahan bakar di dalam negeri. (WYD)



