UPDATECEPAT.COM – Harga emas global dan domestik mencatatkan tren kenaikan tajam di awal tahun 2026, memicu tekanan inflasi komoditas emas di sejumlah wilayah Indonesia dan memperkuat sentimen pasar terhadap instrumen safe-haven di tengah gejolak ekonomi global.
Menurut pengamatan pasar dunia, harga emas dunia pada 12 Januari 2026 melonjak di atas level US$4.600 per troy ounce, mencatatkan rekor tertinggi baru sepanjang sejarah perdagangan emas global. Lonjakan ini dipicu oleh permintaan safe-haven yang kuat menyusul meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kebijakan moneter Amerika Serikat serta pelemahan dolar AS.
Tidak hanya itu, di pusat perdagangan logam mulia internasional, kota Dubai juga mencatat harga emas 24 karat menembus rekor baru, dengan level tertinggi harian yang memperkuat tren kenaikan harga emas global.
Sentimen positif terhadap emas juga tercermin dari pandangan investor ritel global, di mana sekitar 71% investor memperkirakan harga emas akan berada di atas US$5.000 per ounce sepanjang 2026, meski target tersebut mencerminkan optimisme kuat di tengah ketidakpastian pasar.
Dampak di Indonesia: Harga Emas Batangan Menguat & Menjadi Pendorong Inflasi Komoditas
Di pasar domestik, harga emas batangan juga menunjukkan kenaikan signifikan sejak awal Januari 2026. Data perdagangan di pertengahan pekan menunjukkan harga emas Antam dan UBS berada di level tinggi berkisar Rp2,6 juta per gram, mencerminkan tren kenaikan yang mengikuti harga internasional.
Kenaikan harga emas batangan ini memiliki dampak nyata terhadap indeks harga konsumen di sejumlah daerah. Sejumlah laporan lokal mengindikasikan emas perhiasan menjadi salah satu komoditas yang mendorong inflasi, termasuk di beberapa kota besar di Indonesia. Laporan juga menunjukkan emas memiliki andil signifikan dalam tekanan inflasi tahunan 2025, yang kemudian memengaruhi harga awal tahun 2026.
Faktor Pendorong Kenaikan Emas
Para analis menilai sejumlah faktor fundamental menjadi pendorong reli harga emas di awal 2026, di antaranya:
Ketidakpastian geopolitik global yang mendorong investor mencari aset lindung nilai safe-haven;
Spekulasi arah kebijakan suku bunga The Fed serta ekspektasi potensi penurunan suku bunga yang meningkatkan daya tarik emas dibanding aset berbasis bunga;
Kelemahan dolar AS akibat tekanan pasar dan faktor politik yang membuat emas lebih menarik sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan risiko mata uang;
Lonjakan permintaan investor ritel yang menjadikan emas sebagai alternatif investasi di tengah fluktuasi pasar modal.
Prospek Inflasi dan Risiko Pasar
Dengan harga emas global tetap tinggi di atas US$4.500–4.600 per ounce, sejumlah pelaku pasar dan analis memproyeksikan tren ini dapat terus berlanjut sepanjang kuartal pertama 2026, terutama jika faktor geopolitik dan tekanan inflasi global belum mereda. Pergerakan harga logam mulia ini diperkirakan akan tetap menjadi indikator penting tekanan inflasi di pasar domestik serta memengaruhi keputusan investasi individual hingga institusional.
Tren kenaikan harga emas pada awal Januari 2026 tidak hanya merefleksikan ekspektasi pasar terhadap inflasi global dan kebijakan moneter, tetapi juga berpotensi menekan indeks harga konsumen melalui komoditas emas di dalam negeri. Dalam konteks ekonomi Indonesia, penguatan harga emas menjadi sinyal penting bagi para pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan investor dalam mengantisipasi risiko inflasi jangka pendek. (NUG)



