BisnisUmum

Serangan ke Kilang Bahrain Picu Kekhawatiran Krisis Minyak Dunia

240
×

Serangan ke Kilang Bahrain Picu Kekhawatiran Krisis Minyak Dunia

Share this article

UPDATECEPAT.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global setelah fasilitas minyak di Bahrain menjadi sasaran serangan rudal pada 5 Maret 2026. Serangan tersebut memicu kebakaran di kilang minyak milik Bapco Energies di kawasan industri Ma’ameer. Kilang ini merupakan satu-satunya kilang besar di Bahrain dengan kapasitas produksi sekitar 267.000 barel per hari serta kemampuan penyimpanan sekitar 14 juta barel minyak. Otoritas Bahrain menyatakan api berhasil dipadamkan dan operasi masih berjalan, meskipun evaluasi kerusakan masih dilakukan. 

Dari sisi cadangan, Bahrain memiliki sekitar 169,9 juta barel cadangan minyak terbukti. Jika hanya mengandalkan cadangan tersebut tanpa impor tambahan, minyak itu diperkirakan cukup untuk sekitar 6–7 tahun konsumsi domestik Bahrain berdasarkan tingkat penggunaan saat ini. Produksi minyak Bahrain sendiri sekitar 186 ribu barel per hari, sementara konsumsi domestiknya sekitar 70 ribu barel per hari, sehingga negara ini sebenarnya memiliki surplus produksi kecil meskipun tetap mengimpor minyak mentah dari negara tetangga untuk kebutuhan kilangnya. 

Namun secara global, kontribusi minyak Bahrain relatif kecil terhadap kebutuhan dunia. Konsumsi minyak global mencapai sekitar 102 juta barel per hari, sedangkan produksi Bahrain hanya sekitar 0,18 juta barel per hari atau kurang dari 0,2 persen pasokan global. Dengan demikian, stok minyak Bahrain secara teoritis hanya setara dengan sekitar satu hingga dua hari konsumsi minyak dunia jika digunakan sendiri untuk memenuhi kebutuhan global. 

Meski kontribusinya kecil, insiden di Bahrain tetap berdampak besar pada pasar energi karena terjadi di kawasan strategis Teluk Persia yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global biasanya melewati Selat Hormuz, dan konflik terbaru telah menyebabkan gangguan pengiriman minyak serta membuat kapal tanker tertahan di kawasan tersebut. Kondisi ini membuat harga minyak melonjak dan menimbulkan kekhawatiran krisis pasokan energi global jika konflik berlangsung lama. 

Selain kilang di Bahrain, sejumlah fasilitas energi lain di kawasan Teluk juga dilaporkan mengalami gangguan atau kerusakan akibat konflik regional, termasuk fasilitas ekspor minyak dan gas di beberapa negara produsen. Serangan terhadap infrastruktur energi ini membuat pasar khawatir akan terjadinya krisis energi yang lebih luas. Jika jalur ekspor minyak dari Timur Tengah terus terganggu, sejumlah analis memperingatkan harga minyak dunia dapat melampaui 100 dolar per barel, yang berpotensi meningkatkan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi global. 

Kesimpulan:
Serangan terhadap kilang minyak Bahrain tidak secara langsung menghilangkan pasokan minyak dunia dalam jumlah besar, tetapi dampaknya signifikan karena terjadi di kawasan vital energi global. Dengan stok Bahrain sekitar 169,9 juta barel dan kapasitas kilang 267 ribu barel per hari, gangguan pada infrastruktur tersebut memperkuat kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan minyak dunia di tengah konflik Timur Tengah yang masih berlangsung. (YFX)